<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-854959840691114559</id><updated>2012-02-17T06:39:23.870+07:00</updated><title type='text'>Tajuk Keluarga</title><subtitle type='html'>Memperkokoh Keluarga 
Menyehatkan Masyarakat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hemanelia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hemanelia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Heman Elia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11795481433063136755</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-854959840691114559.post-3850196246272048825</id><published>2007-12-30T15:48:00.000+07:00</published><updated>2007-12-30T15:50:07.330+07:00</updated><title type='text'>Menghayati Kelemahan Anak</title><content type='html'>Anak-anak saya mempunyai kebiasaan sepulang sekolah langsung menuju ke komputer. Entah itu sekadar bermain game atau mencoba mengotak-atik software. Kami tidak mengunci penggunaan komputer karena mereka memerlukannya menyelesaikan PR. Masalahnya mereka pulang sampai rumah setidaknya jam 4 sore atau lebih dari itu. Mereka bisa lupa waktu dan sangat sulit untuk beralih ke pelajaran mereka. Padahal kami tahu mereka memerlukan tenaga untuk menyelesaikan tugas sekolah yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kami, keteraturan dan efisiensi akan terjadi bila mereka segera mandi, mengeluarkan buku, catatan, dan membuat PR. Makan malam jam 6 petang juga sudah disiapkan tinggal disantap. Tetapi keasyikan mengotak-atik komputer menghambat pengerjaan tugas mereka. Akibatnya, mereka tidur semakin malam. Lalu ada banyak alasan untuk tidak berkumpul dan berdoa sebagaimana yang ingin kami lakukan setidaknya dua kali dalam seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bangun pagi dengan ogah-ogahan. Ketika harus berangkat sekolah, waktu mereka begitu sempit. Akibatnya, mereka naik mobil antar-jemput dengan kaos kaki masih berada di dalam sepatu. Kekesalan pun makin bertambah bila mereka menelpon dari sekolah meminta kami mengantarkan barang-barang mereka yang tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan anak yang tidak menyenangkan namun terus berulang itu menjengkelkan. Kami cenderung marah dan mendisiplin mereka dengan cara yang cenderung semakin keras. Tetapi sebetulnya kebiasaan buruk serupa yang anak lakukan itu juga saya miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi saya adalah membaca dan menulis. Sepintas, itu adalah hobi yang sangat bermanfaat. Namun ketika berhadapan dengan tugas koreksi pekerjaan mahasiswa atau berceramah, cukup sering saya menundanya hingga saat-saat terakhir. Sebab pekerjaan-pekerjaan itu menuntut konsentrasi dan tenaga ekstra, selain juga membosankan. Istri yang memergoki saya asyik dengan hobi yang bukan prioritas utama sering mengatakan bahwa saya kurang disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak persamaan kebiasaan dan pengalaman saya dengan anak-anak. Bedanya, saya seharusnya jauh lebih mampu mengendalikan diri. Selain itu, saya lebih banyak memiliki peluang untuk mencari variasi kerja agar tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat akan Yesus yang duduk di atas takhta kemuliaan-Nya di surga. Namun Ia rela menyamakan diri dengan manusia berdosa, hidup di dunia yang kotor, dan mengalami penderitaan sebagai manusia. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani  4:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah bukan seperti saya yang tidak mau mengerti kelemahan dan kesulitan anak saya ketika memberi perintah dan mendisiplin. Allah juga tidak membebani saya dengan tuntutan yang tidak masuk akal. Permintaan agar saya hidup kudus itu ringan dan seharusnya tidak sulit untuk dijalani. Sebab saya telah dibebaskan dari perbudakan dosa. Saya seharusnya lebih sering mengingat Firman-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28-30).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/854959840691114559-3850196246272048825?l=hemanelia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hemanelia.blogspot.com/feeds/3850196246272048825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=854959840691114559&amp;postID=3850196246272048825' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/3850196246272048825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/3850196246272048825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hemanelia.blogspot.com/2007/12/menghayati-kelemahan-anak_30.html' title='Menghayati Kelemahan Anak'/><author><name>Heman Elia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11795481433063136755</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-854959840691114559.post-3371248157723620020</id><published>2007-12-27T14:50:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T14:52:06.765+07:00</updated><title type='text'>Mempertanyakan Keadilan</title><content type='html'>Salah satu tugas tersulit menjadi orangtua adalah mendamaikan anak yang bertengkar. Kita cenderung memihak salah seorang anak dan menyalahkan anak yang lain. Namun anak yang disalahkan tidak akan menerimanya begitu saja. Apalagi bila tuduhan kesalahan itu disertai pula dengan hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering terluput dari perhatian kami selaku orangtua adalah bahwa anak yang lebih muda dan nampak tidak berdaya pun bisa menjadi biang kerok pertengkaran. Ia mengusili kakaknya dan ketika kakaknya bermaksud membalas, ia langsung berteriak mencari perhatian dan pertolongan kami. Secara spontan biasanya kami membela sang adik yang tampak lebih kecil dan lemah. Biasanya kami pun meminta kakak untuk lebih banyak mengalah. Dalam situasi demikian, sang kakak merasa tidak diperlakukan adil. Maka dia pun akan menunggu kelengahan kami untuk membalaskan sakit hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, kakak memiliki beberapa kelebihan sehingga kami sering memuji dan memberinya hak-hak istimewa. Ketika sang adik menuntut hal yang sama, kami memberi berbagai alasan untuk menolaknya. Akibatnya adik merasa kakak lebih disayang dibandingkan dirinya. Sangat mungkin dalam keadaan demikian, kami tergoda untuk melonggarkan peraturan dan memberikan apa pun yang diminta oleh mereka. Sebab kami tidak ingin menjadi orangtua yang tidak adil dan tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menemukan sebuah prinsip yang entah pernah saya baca di mana. Ketika kita mendidik, prinsip orangtua adalah untuk menyeimbangkan antara hak dan tanggung jawab. Kita tidak boleh terjebak pada kesamaan dan keseragaman perlakuan untuk semua anak. Ketika adik menuntut agar diperbolehkan tidur lebih malam sama seperti kakaknya, ia juga harus menghabiskan lebih banyak waktu belajar, sama seperti kakaknya. Ketika kakak menuntut waktu bermain lebih banyak, ia juga tidak lagi boleh keluar rumah sama seperti adiknya. Tetapi ada aturan yang berlaku sama sampai kapan pun. Ketika bertengkar, siapa pun yang menggunakan tinjunya akan memperoleh hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar kemandirian dan rasa tanggung jawab anak, semakin banyak hak yang boleh kita berikan kepada mereka. Buat kami, prinsip ini membuat kami harus berpikir lebih keras agar tidak hanya melarang dan memberi perintah. Sebab lebih mudah untuk langsung mengatakan “tidak boleh”. Tetapi buat anak, mereka lalu belajar bertanggung jawab dan mandiri melalui prinsip yang kami terapkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringatlah saya akan Yesus yang pernah mengajukan beberapa perumpamaan yang nampak aneh karena menggambarkan “ketidakadilan” Allah. Dalam perumpamaan anak bungsu yang terhilang, ayah menyambut gembira kepulangannya dan mengadakan pesta besar. Sedangkan anak sulung tidak pernah diberi ayahnya seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya. Tetapi sang ayah menjawab, bahwa segala kepunyaan ayah adalah juga kepunyaan anak sulungnya itu (Lukas 15:11-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukalah pikiran saya, bahwa dosa itu selalu membuahkan dukacita, kesengsaraan, dan penderitaan. Namun mengapa saya senantiasa merasa orang lain yang melakukan kejahatan dan dosa besar hidup lebih enak karena memperoleh pengampunan yang sama dengan saya? Mengapa saya sangat sering merasa orang lain beroleh berkat lebih besar daripada saya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/854959840691114559-3371248157723620020?l=hemanelia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hemanelia.blogspot.com/feeds/3371248157723620020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=854959840691114559&amp;postID=3371248157723620020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/3371248157723620020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/3371248157723620020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hemanelia.blogspot.com/2007/12/mempertanyakan-keadilan.html' title='Mempertanyakan Keadilan'/><author><name>Heman Elia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11795481433063136755</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-854959840691114559.post-7660561033473915878</id><published>2007-12-27T00:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T06:51:52.034+07:00</updated><title type='text'>Radar</title><content type='html'>Ada saatnya saya merasa anak saya tidak berkata jujur. Ia sering pulang terlambat dari sekolah. Bila ditanya, ia akan memberi alasan yang berbeda-beda yang sulit diuji kebenarannya. Dari alasan yang tidak konsisten ini saja sebetulnya sudah dapat dipastikan bahwa ia sedang berbohong. Masalahnya, untuk menegurnya harus ada bukti nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergoda sekali saat itu untuk memeriksa tas, buku harian, barang-barang pribadinya, atau menguntitnya diam-diam. Namun kami berpikir bahwa itu bukan cara yang baik. Sebagaimana orang dewasa, anak pun memerlukan ruang tertutup untuk menyendiri dan aman bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimana bila ia menyembunyikan dosa? Mungkinkah ia mulai kecanduan internet dan pornografi? Apa akibatnya kalau ternyata ia tersangkut penyalahgunaan zat-zat berbahaya yang lebih dikenal dengan narkoba? Atau dia sedang berpacaran dan terlibat seks bebas akibat pengaruh teman-teman yang tidak benar? Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu satu pertanyaan yang berkecamuk ini sangat menggelisahkan. Rasanya ingin menjadi radar yang dapat mendeteksi ke mana anak saya pergi dan apa saja yang dilakukannya. Lalu bila memergokinya berbuat tidak benar, saya pun dapat melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Tetapi tentu siapa pun tahu bahwa ini hanya pengandaian yang musykil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu teringat akan Allah kita. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah memanggil manusia dan berfirman, “Di manakah engkau?” Tentu Allah tahu di mana manusia itu. Tetapi Ia tidak mengejar Adam dan langsung membunuhnya dengan nafas mulut-Nya. Demikian pun ketika Adam tidak langsung mengakui dosanya, Allah justru menjanjikan Penyelamat dari keturunan Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kain merencanakan membunuh Habel, adiknya, Allah memperingatkannya dengan keras, “Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kejadian 4:7b). Sewaktu Kain benar-benar membunuh Habel, Allah tidak mencegahnya. Allah justru bertanya, “Di mana Habel, adikmu itu?” Tidak mudah untuk memahami, mengapa Tuhan tidak langsung menghardik dan menghukum. Ia menunggu manusia berdosa untuk menjawab pertanyaannya. Setelah itu, barulah Tuhan menyatakan akibat dosa yang dilakukan manusia dan mencarikan jalan keluar untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang sabar Tuhan sungguh sulit kita selami. Meskipun Ia sangat membenci dosa, cinta-Nya yang begitu besar kepada manusia membuat-Nya memberikan Anak Tunggal-Nya yang sangat Ia kasihi, agar yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Inilah yang saya pelajari. Tuhan mempunyai lebih dari sekadar radar. Kita tidak mungkin menyembunyikan diri dari hadapan-Nya. Namun Ia memberi kesempatan kepada saya dan Anda untuk berbalik dari jalan berdosa. Ia sabar menanti. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus, “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2:4).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/854959840691114559-7660561033473915878?l=hemanelia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hemanelia.blogspot.com/feeds/7660561033473915878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=854959840691114559&amp;postID=7660561033473915878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/7660561033473915878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/7660561033473915878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hemanelia.blogspot.com/2007/12/ada-saatnya-saya-merasa-anak-saya-tidak.html' title='Radar'/><author><name>Heman Elia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11795481433063136755</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-854959840691114559.post-621203329364317131</id><published>2007-12-26T23:29:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T23:32:10.742+07:00</updated><title type='text'>Sulitnya Meminta Maaf</title><content type='html'>Suatu malam kami sekeluarga membahas tentang penderitaan Kristus sebagai teladan. Konteks Alkitabnya adalah 1 Petrus 2:18-25. Bagian itu berbicara tentang karunia memikul penderitaan yang tidak seharusnya kita tanggung. Kristus tidak membalas perbuatan jahat, melainkan menyerahkan penghakiman kepada Allah Bapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya pun bertanya kepada ketiga putra saya, apakah mereka mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan penderitaan yang bukan karena kesalahan mereka. Salah seorang anak langsung mengatakan ia mengalaminya, yaitu ketika ia dituduh yang bukan-bukan. Karena bukan kali ini saja anak-anak kami mengatakan bahwa mereka dituduh melakukan apa yang tidak mereka lakukan, saya segera maklum apa yang ia maksudkan. Apalagi baru saja sore harinya saya mengatakan dengan suara keras kepada istri yang mencari anak kami itu bahwa anak itu pergi tanpa pamit. Begitulah memang aturan yang kami tetapkan, yakni setiap orang harus pamit dan memberitahu ke mana ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya membantu menjelaskan apa yang dimaksud anak kami tentang “dituduh yang bukan-bukan”. Ketika saya menuduh, ia mendengar anak tersebut mengomel, “Papa itu sangat curiga, dan kecurigaan itu membutakan”. Kami semua tertawa. Namun saat itu saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengalahkan perkataannya atau setidaknya mengalihkan pembicaraan. Saya lalu berusaha merendah dengan mengatakan bahwa saya harus bertobat. Suasana pun semakin mencair dan anak saya tampak cukup puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai pembahasan ayat Firman Tuhan disertai doa pertobatan, saya tetap gelisah. Saya belum meminta maaf. Rupanya tidak mudah memohon maaf kepada anak. Karena untuk melakukannya, saya harus merunduk sedemikian rupa seolah lebih rendah dari anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini semakin menyadarkan saya akan keagungan Yesus Kristus yang sangat rendah hati. Meskipun ia adalah raja atas segala raja dan tanpa dosa sedikit pun, Ia rela menderita kehinaan. Bahkan yang Ia terima jauh melebihi hukuman buat penjahat besar. Kasih-Nya yang begitu tinggi dan dalam, membuat Yesus rela dianiaya dan dinista begitu keji oleh mahluk ciptaan-Nya sendiri. Malam itu saya tertunduk malu di hadapan Kristus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/854959840691114559-621203329364317131?l=hemanelia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hemanelia.blogspot.com/feeds/621203329364317131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=854959840691114559&amp;postID=621203329364317131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/621203329364317131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/854959840691114559/posts/default/621203329364317131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hemanelia.blogspot.com/2007/12/sulitnya-meminta-maaf.html' title='Sulitnya Meminta Maaf'/><author><name>Heman Elia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11795481433063136755</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
